Andai seorang insan menangkap ikan
nelayankah dia?
Sawah dibajak benih disemai
petanikah dia?
Andai seorang pujangga meluah kata
mengungkap bicara…mengarang cerita
diakah dia?
Andai seorang insan menangkap ikan
nelayankah dia?
Sawah dibajak benih disemai
petanikah dia?
Andai seorang pujangga meluah kata
mengungkap bicara…mengarang cerita
diakah dia?
Kekusutan yang menghimpit,
Tiada tenang dengan tangisan,
Mahupun luahan jiwa resah,
yang tertumpah pada helaian renyuk.
Atap minda terasa terhempap,
Menyesakkan hembusan keperitan,
Menegangkan saraf kebuntuan,
Malah membekukan aliran fikiran.
Namun kerumitan yang terpintal,
Sesungguhnya mampu dirungkai,
Kembalilah kepada sebenar-benar ajaran,
Istiqamahlah mengerjakan suruhan Tuhan,
Berselawatlah ke atas nabi junjungan,
Nescaya kekusutan menemui peleraian.
Di sini
Orang Palestina yang tuan rumah
Kini menjadi tamu yang tak diinginkan
Yahudi yang terusir di luar sana
Kini Yahudi yang mengusir
Di sini
Dan saksikan…
Saksikan
Ibu-ibu, nenek-nenek, kakek gaek
Ada anak-anak
Ada batu yang dilemparkan
Di Yerusalem
Ibrahim, Luth, Ismail, Musa, Harun, Yusya’
Daud, Sulaiman, Zakariya, Yahya, Ishaq, Ya’qub
Mengambil hak-hak orang lemah dari yang kuat
Menghantam penindas
Mengangkat martabat
Ada semangat sepanjang masa
Pada tiap zaman
Ada ghirah setiap umat
Pada tiap tempat
Ada bara yang tidak padam
Dan saksikan…
Saksikan
Ibu-ibu, nenek-nenek, kakek gaek
Ada anak-anak
Ada batu yang dilemparkan
Di Yerusalem
Tanah para nabi dan rasul
Ada nabi yang dibantai
Ada manusia yang dinistakan
Ada agama yang dihinakan
Dan saksikan…
Saksikan
Ibu-ibu, nenek-nenek, kakek gaek
Ada anak-anak
Ada batu yang dilemparkan
Ambil bara dan jangan matikan dengan air mata
Tiup dengan napas
Panaskan jiwa
Kobarkan nyali
Besi terbentuk oleh bara
Dan saksikan…
Saksikan
Ibu-ibu, nenek-nenek, kakek gaek
Ada anak-anak
Ada batu yang dilemparkan
Tidak lagi penting apakah batu mampu melawan peluru
Tidak lagi terpikirkan apakah orang-orang Yahudi belajar dari
Crematorium Nazi atau tidak
Tidak ada lagi rasa takut bahkan bila Palestina berubah
Menjadi crematorium Israel
Yang kami takutkan
Adalah saat di mana tulang-tulang kami
Abu kami
Menangis sedih dan memaki menyalahkan
Melihat seorang dari Nigeria atau serombongan dari Indonesia
Pada satu waktu yang mungkin tidak jauh
Berdiri di Bukit Zaitun
Dan menunjuk;
Di sana dulunya Masjidilaqsa
Di sana dulunya Qabbatussakhrah
Dan kita semua pernah mengagumi kemegahannya
Bukit Zaitun, 1991Benar…
detik yang berlalu
mana mungkin bisa dikembalikan
Hidup kita hanya pada saat ini
mungkin juga sesaat kemudian
kita bisa mati
Apa yang kau cari?
ketika nafas masih meresap
di kala nadi belum terhenti
Aku mencari bahagia
Aku mencari cinta