Sejak aku melihat dunia,
Sehingga ke saat aku mencoretkan rasa,
Alam ini tidak pernah kaku,
Variasinya mengindahkan suasana,
Terik, renyai, taufan dan kelam,
Mewarnai perjalanan setiap insan.
Dahulu aku sukakan malam yang kelam,
Mungkin sunyinya mendamaikan rehatku,
Atau itulah ketikanya keluargaku bersatu,
Berkongsi senda tawa,
Berlimpahan kasih mesra,
Hingga tenggelam episod duka.
Pernah jua ribut taufan aku idamkan,
Keganasannya bersela kerakusan,
Menyapa tanpa berita amaran,
Kuasa itu amat menerujakan,
Bagi seorang anak hingusan,
Namun ia hanya berlalu dan lesap entah ke mana.
Mengimbau saat aku menginjak dari alam fantasi,
Panas teriklah pelapik langkah penuh erti,
Aku merencanakan misi dan visi,
Jauh meninggalkan bayangan kejahilan,
Tapi lama mana aku mampu bertahan,
Aku bukanlah pepohon yang tekal,
Rela reput berbahang mentari.
Bagaimanapun perjalanan alam ini,
Aku tetap di sini,
Mencari ketenangan di balik tirai usang,
Mencoretkan bingkisan kala renyai hujan,
Dalam dingin yang mendamaikan.