…“Mohon menumpang tuan”…
sayup suara berbisik menelan perit
bersahaja dalam nada penuh hina
melonjak tinggi kendiri meski hadirnya memijak diri
Mengambal si tuan itu dari suatu penjuru
menguntum senyum berwajah polos terkandung seribu makna
…“Masuklah”…wahai kelana
Sudah resam kehidupan
berlari-lari dalam kitaran bulan dan matahari
asal tetamu kini hidup menumpang
seumpama mengharapkan belas ihsan tuan
tiap-tiap budi terus menjadi ungkit-ungkitan
…“Argh! Apa yang kau ada penumpang?
tiada apa-apa, hanyalah siulan kepapaan
berani engkau membuat sesuatu semahumu
Nah! rasakan…aku ini tuan!”
KELUAR! KELUAR! KELUAR!!!…
Tanah bumi ini menjadi saksi
kesaksian di bawah bumbung langit luas terbentang
seorang penumpang…meneriti sebuah perjalanan