Secawan susu panas
keputihan…
memancing jernih kesucian
Secawan susu panas
panas…
ditiup dihirup perlahan-lahan
Secawan susu panas
mencerna kasih bahagia
Laman Penyubur Jiwa
Secawan susu panas
keputihan…
memancing jernih kesucian
Secawan susu panas
panas…
ditiup dihirup perlahan-lahan
Secawan susu panas
mencerna kasih bahagia


Duhai abang…maafkan aku,
Aku tega mengguris hatimu,
Sesaat angkuh menjadi insan terlupa,
Yang mencebik saat engkau tersenyum,
Yang melukakan saat engkau mendambakan keriangan,
Dari keihklasan sebuah pemberian.
Duhai abang…maafkan aku,
Kucoret puisi dalam terkilan yang berbaki,
Kerana tak mampu kembali meleraikan,
Ketegangan genggaman sentuhan semalam,
Kutahu maaf belum tentu cukup melegakan,
Hati seorang abang yang terluka,
Akan kata-kata yang berbisa.
Duhai abang…maafkan aku,
Aku terbiasa hidup bersahaja,
Minda terdidik dalam ketundukan,
Bimbang ketidakcukupan barangkali,
Kekadang tersipu sendiri.
Duhai abang…maafkan aku,
Baru kutahu isi hatimu,
Mahu menyenangkan kemurungan adikmu,
Tapi sayang…
Penat lelahmu kubalas dengan tamparan keengganan.
Mengertilah abangku…
Daku insan lemah,
Terkadang berbuat salah.


Lalu gagak,
apa yang kau tangiskan?
meski tidak seputih merpati,
atau merak seindah pelangi;
bukankah janji Tuhanku,
dan Tuhanmu:-
“Yang tinggi, dekat,
dan mulia pada-NYa;
adalah jiwa,
yang dalamnya,
takwa?”
Nadim M
O’Flanagan Lecture Theature,
Royal College of Surgeons in Ireland
20 Oktober 2009


Usah menyendiri…sendiri
tercicir dalam penyatuan
tersingkir dalam gandingan
Sebatang lidi
kalau dipatah mudah
berdiri lemah
dijentik rebah
Seberkas lidi
kalau dipatah susah
berdiri gagah
dijentik tak rebah
Ayuh kejapkan ikatan
usah uraikan simpulan
kerana basah hujan tak mereputkan
kerana terik mentari tak melekangkan
memanjat usia…menyuburkan


Andai kita dapat sama berada di lautan ini
menghela nafas saling menghirup udara nan segar
dengan percikan air pulau menghijau beralun mengasyikkan
dipanggang disalai bahang hangat mentari
digoda pandang pada buih-buih air memecah keputihan
ingin sekali aku ini rapat merangkul jasad
lalu kubisikkan kalam bersaksikan alam
aku telah lemas dalam selaut kerinduan padamu…


tak guna pandai bicara
tatkala kebohongan juga yang terhambur
di sebalik kemunafikan yang bertakhta
indah, seolah dihias permata berlian
namun punah, ibarat buih-buih di lautan
kosong dari ruh, sepi dari kebenaran
yang ada cuma madah bersulam emas
menipu penuh seni
tak guna pandai bermadah indah
andai amal tak menurut bersama
yang ada cuma sesal tak henti
kesedihan tak dikunjung harapan
mengeluh entah di mana penghujungnya
bercerita penuh syahdu
namun diam seribu amal
dan bangsapun terus terlopong
menanti sinar perubahan
dari seorang pekerja umat
bukan seorang pengkritik bebas
di sebalik tabir bersembunyi
bercerita di sana-sini
namun umat terus menangis
menderita tak dirawat
wahai diriku
jangan pernah lesu berbicara kebenaran
jangan pernah lupa membuktikan dalam amal
agar kebenaran tidak tinggal harapan


Kesusahan, keperitan
mematangkan akal
meneguhkan hati
menguatkan jasad
hidup makin dihargai
penuh erti
Kesenangan, kekayaan
membelai naluri
akal jauh menyimpang
hati kian membatu
jasad tak ingin beramal
hidup ada segala
tapi kekosongan terasa
Keperitan kadangkala membahagiakan
kesenangan kadangkala menyempitkan
pelik, namun ada benarnya
ada nilainya buat yang mengerti
Permasalahan bukan pada keadaan
tapi pada insan
24 Ramadhan 1430 H


Saban waktu lamanya
aku sepi sendiri
hati tidak berteman
jiwa tidak keruan
jasad menanggung beban
Suatu masa lalu
aku mengerling pandang akan dirimu
tiap kali melewati koridor 1K1
Se-Ayu wajah sehalus selembut sutera
bersinar bercahaya bak mengambang purnama
renungan manjamu menggoda mengusap jiwa
pasak matamu memukau menambat rasa
manis mesra senyummu menawan kalbu
lunak merdu suaramu mengusik rindu
sopan santunmu melambang gadis melayu
Ingin sekali aku hampir mendekati
sehingga tibanya ketika…
aku merantau jauh menghilang diri
kutinggalkan segala cerita tentang dirimu
kupendam dan kuluput segala hasrat membuai mimpi
Selisih waktu di kemudian hari
sempat aku mengenal akan kelibatmu
saling sama menghayati rencam pengalaman
bersadur macam mengulit kisah kehidupan
bersua kita lagi…setelah lama dimamah usia
Taman hati yang kelam cahaya
bagaikan kembali bersinaran
aku yang telah hilang percaya
pada setia dara kasih asmara
kembali ditawan kerinduan…
Aku bimbang akan sebuah kehilangan
kerana silapnya semalam…


Berhembus sang angin…Kencang!
menderu tiada penghalang…laju
merempuh tanpa salam…syahdu
berdesir di celah-celah pepohonan
rumput-rumput berlambaian
pelepah-pelepah bertarian
reranting yang meliuk-liuk
dedaun yang berguguran
meniupkan semangat alam


Pasti tiba
saat kita melangkah pergi
berpindah ke alam abadi
tinggal bumi tumpangan
mati dan hidup lagi
di dunia hakiki
Harta dan nama
anak isteri, harta pusaka
luput ditelan zaman
layu direntang usia
lalu hilang tak dikenang
Bisa jadi yang ditinggal
hanya tangisan dalam nostalgia
bahkan mungkin
kebencian dalam dendam
dan rajuk yang belum terpujuk
Rugi, sesal tak bernoktah
andai hidup penuh nikmat
lalu pergi
menempah siksa tak terperi
bertemu Ilahi dalam cemar
segunung dosa tak terampun
Tinggal segala!
apa yang kau tinggal di dunia?
“Apabila mati anak adam, terputus amalnya kecuali 3: Sedekah Jariah, Ilmu yang bermanfaat, dan anak soleh yang mendoakan”

